Feeds:
Posts
Comments

Altien J. Rindengan (G651080041)

MULTIMEDIA MINING

Multimedia mining adalah salah satu bagian ilmu data mining untuk menambang/menggali pengetahuan dari informasi atau data multimedia. Akan tetapi multimedia mining tidak sekedar perluasan dari data mining, karena merupakan upaya interdisipliner yang memanfaatkan keahlian dalam multimedia retrieval, pengolahan data multimedia, computer vision, machine learning, dan kecerdasan buatan.  Multimedia mining berkaitan dengan ekstraksi pengetahuan implisit, relasi data multimedia, atau pola lain yang tidak secara eksplisit disimpan dalam file multimedia.

Sistem multimedia mining dapat secara otomatis mengekstraksi informasi semantik sebagai pengetahuan dari file multimedia.  Umumnya, sistem database multimedia mengelola koleksi besar objek multimedia, seperti image, video, audio dan data hypertext.

Secara umum, file multimedia dari database harus  mengalami praproses sesuai dengan format data yang sesuai, selanjutnya mengalami berbagai transformasi dengan ekstraksi fitur untuk menghasilkan fitur penting dari file multimedia.  Dengan fitur yang dihasilkan, mining dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik data mining untuk menemukan pola signifikan untuk kemudian dievaluasi dan diinterpretasikan untuk mendapatkan pengetahuan yang diinginkan.

Proses aplikasi multimedia mining dapat dilihat pada Gambar 1 berikut (Kotsiantis et al, 2004).

Gambar 1.  Proses multimedia mining

Pengumpulan data adalah titik awal dari sebuah pembelajaran sistem, sehingga kualitas data mentah dicapai pada kinerja secara keseluruhan.  Disini akan dilakukan ekstraksi fitur yang sesuai dengan tipe data yang ada (teks, gambar, audio, video), misalkan untuk data teks dengan tokenisasi, dan data audio dilihat dari pitch atau frekuensi audio.  Kemudian, tujuan dari pra-proses data adalah untuk menemukan fitur penting atau seleksi  fitur dari data mentah. Pra-proses data meliputi pembersihan data, normalisasi, transformasi, seleksi fitur, dll.  Proses pembelajaran bisa cepat, jika informatif fitur dapat diidentifikasi pada tahap pra-proses.  Hasil dari pra-proses data adalah training set. Jika diberikan sebuah training set, sebuah model pembelajaran harus memilih untuk belajar dari itu. Kemudian dengn machine learning dapat diperoleh model yang diinginkan dengan cara klasifikasi atau kluster.

MULTIMEDIA RETRIEVAL

Jika multimedia mining adalah bagian ilmu dari data mining, maka multimedia retrival adalah bagian dari ilmu temu kembali informasi yang menfokuskan pada temu kembali informasi dari data multimedia.  Secara umum, teknik-teknik yang dilakukan sama pada temu kembali informasi untuk data bukan multimedia.  Berbeda dengan data yang hanya berupa numeric atau teks, karena data multimedia bisa apa saja (teks, audio, image dan video) maka multimedia retrieval adalah model temu kembali informasi berbasis konten (content-base infromastion retrieval).  Disini yang bisa menjadi query tidak hanya teks atau angka saja, bisa audio atau gambar tergantung jenis data yang akan dicari.

Wei dan Li, 2004, menyajikan arsitektur untuk data multimedia berdasarkan content-base infromastion retrieval, sebagai berikut :

Gambar 2. Arsitektur content-base information retrieval untuk data multimedia

Dalam content-base information retrieval system, konten media dalam database diekstrak dan dideskripsikan oleh vector fitur multi-dimensi, atau disebut deskriptor. Vektor fitur media merupakan fitur dataset. Untuk mengambil data yang diinginkan, pengguna mengirimkan contoh query untuk system temu kembali. Sistem kemudian merepresentasikan contoh-contoh ini dengan vector fitur. Jarak (yaitu, dalam arti ukuran kesamaan) antara vektor fitur dari contoh query dan yang ada di media dalam fitur dataset kemudian dihitung dan dirangking. Temu kembali dilakukan dengan menerapkan suatu skema pengindeksan untuk memberikan cara yang efisien untuk mencari database media. Akhirnya, sistem merangking hasil pencarian dan kemudian mengembalikan hasil pencarian teratas yang paling mirip dengan contoh query.

Untuk content-base information retrieval system, seorang perancang harus mempertimbangkan empat aspek: fitur ekstraksi dan representasi, dimensi reduksi fitur, pengindeksan, dan spesifikasi query.

PERBEDAAN MULTIMEDIA MINING DAN MULTIMEDIA RETRIEVAL

Yang dilakukan dalam multimedia retrieval adalah bagaimana mengekstraksi pengetahuan implisit, relasi data multimedia, atau pola lain yang tidak secara eksplisit disimpan dalam file multimedia (discovering), dibanding pada multimedia retrieval yang hanya untuk merangking query yang dicari untuk disajikan ke user (searching).

Multimedia retrieval hanya menekankan pada temu kembali data/informasi yang sesuai dengan query yang diminta.  Sedangkan multimedia mining mengelola data/informasi yang sesuai dengan proses analisa yang diterapkan agar diperoleh informasi yang lebih banyak (pengetahuan) berdasarkan query yang diminta.

Karena data perlu  dianalisa berdasarkan teori dalam data mining, maka dalam multimedia mining harus melakukan cleaning data dan seleksi fitur untuk membuat analisanya menjadi lebih cepat dan sederhana, artinya data yang “tidak baik” dibuang saja dan fitur yang tidak signifikan mempengaruhi tidak perlu diikutkan dalam analisa.  Sedangkan pada multimedia retrieval, hal ini tidak dilakukan.

Pustaka

Kotsiantis, S., D. Kanellopoulos, P. Pintelas. 2004.   Multimedia Mining. WSEAS Transactions on Systems, Issue 10, Vol.3:3263-3268.

Wei, C-H., & Li, C-T. 2004.  Design of Content-based Multimedia Retrieval. Department of Computer Science University of Warwick, Coventry UK.

Originalitas Riset


Konsep Orisinalitas

Pada tingkat pendidikan pascasarjana, tugas akhir yang dibuat dilihat dari penelitian yang  orisinal dan adanya kontribusi yang signifikan untuk pengembangan pengetahuan. Tapi ini menjadi salah satu masalah bagi banyak mahasiswa pascasarjana.  Hal ini karena kekhawatiran bahwa hal baru yang akan kita ungkapkan/teliti mungkin sudah dilakukan sebelumnya oleh orang lain. Ada ketakutan yang lain juga yaitu mungkin ada orang lain yang melakukan penelitian yang hasilnya dapat menyangkal temuan kita. Akibatnya banyak mahasiswa pascasarjana menjadi sangat cemas tentang tingkat orisinalitas dalam penelitian mereka. Untuk menghindari kemungkinan ini, diperlukan kerja sama dan mendiskusikan penelitian kita dengan dengan orang lain dalam bidang penelitian kita, serta perlu membaca penelitian lain yang berhubungan dengan penelitian kita.

Masalah lainnya adalah bahwa mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam mengenali atau mengakui keaslian penelitian mereka sendiri dan sering memerlukan bantuan orang lain untuk menemukan atau menentukan karyanya itu.

Pemikiran kembali tentang Orisinalitas

Cryer (1997) menunjukkan peninjauan kembali dan mengembangkan orisinalitas mengharuskan anda melaukan 3 proses berikut:

  1. mengerti apa pengertian orisinalitas, bagaimana hal itu bisa diinterpretasikan dan bagaimana hal itu bisa terwujud dengan sendirinya.
  2. belajar tentang berpikir lateral dan menggunakan keterampilan dan kreatif untuk memfasilitasi orisinalitas
  3. memungkinkan periode inkubasi untuk mengembangkan keterampilan ini secara efektif.

Hal ini menunjukkan bahwa ada cara untuk memfasilitasi orisinalitas dalam penelitian kita, tetapi ini memerlukan waktu dan usaha.

Pengertian Orisinalitas

Sala satu masalah dengan istilah “orisinalitas” adalah bahwa mahasiswa dan pembimbing dapat memahami konsep ini secara berbeda. Jika tidak ada diskusi antara mahasiswa dan pembimbing tentang apa pengertian “orisinalitas”, maka kesulitan yang mungkin timbul. Phillips dan Pugh (1994:62) mencatat, “mahasiswa dan pembimbing [mungkin] menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan berbagai konsep-konsep yang berbeda [tapi mungkin tidak] dengan saling mendiskusikan definisi yang mereka teliti“. Kurangnya diskusi ini dapat mengakibatkan asumsi dan harapan tidak konsisten baik dari mahasiswa dan pembimbing.

Beberapa mahasiswa pascasarjana percaya bahwa mereka harus mengembangkan sebuah “cara baru” tentang suatu topik. Beberapa pembimbing berasumsi bahwa mahasiswa cukup menyumbangkan pemahaman dengan beberapa langkah tambahan. Seringkali itu adalah melalui “trial and error ‘pada periode yang berbeda dengan menyadari langkah maju walaupun kecil, mungkin diperlukan.

Oleh karena itu, unsur orisinalitas dalam penelitian sendiri, secara realistis, cenderung kecil. Penelitan yang sangat orisinal sangat tidak biasa (Blaxter, Hughes & Tight, 1998:13). Meskipun kontribusi kita mungkin kecil, ingatlah bahwa itu masih merupakan kontribusi yang orisinal dan kita mungkin bukan orang terbaik untuk menilai signifikansi karya kita.

Seperti dengan kedalaman dan kompleksitas informasi, tingkat orisinalitas yang diperlukan juga akan ditentukan oleh tingkat pendidikan yang kita tempuh. Jika kita mengambil program magister, persyaratan untuk orisinalitas atau kontribusi yang signifikan adalah lebih kecil daripada jika kita mengambil program doktor.

Sebagai contoh:

Tingkat derajat Pendekatan Tujuan akademis
Sarjana Reproduksi Ketepatan informasi yang disajikan (dengan menganalisa suatu elemen)
Magister Analitikal “Orisinalitas yang sedehana” yang mungkin mencakup pembentukan kembali atau mempertimbangkan materi atau informasi dengan cara lain
Doktor Spekulatif “Orisinalitas yang kreatif” dengan pendekatan baru/ pengetahuan baru

Kriteria Dasar Orisinalitas

  1. Menyajikan informasi baru secara tertulis untuk pertama kalinya
  2. Memperluas, kualifikasi atau mengelaborasi pada karya yang telah ada
  3. Melaksanakan sebuah karya asli yang dirancang dengan orang lain
  4. Mengembangkan produk baru atau memperbaiki yang sudah ada
  5. Menafsirkan ulang teori yang sudah ada, mungkin dalam konteks yang berbeda
  6. Menunjukkan orisinalitas dengan menguji gagasan orang lain
  7. Melaksanakan pekerjaan empiris yang belum pernah dilakukan sebelumnya
  8. Menggunakan pendekatan metodologis yang berbeda untuk mengatasi masalah
  9. Sintesa informasi dalam suatu cara yang baru atau berbeda
  10. Memberikan interpretasi baru dengan menggunakan informasi yang ada/dikenal
  11. Mengulangi penelitian dalam konteks lain, misalnya, negara yang berbeda
  12. Menerapkan ide-ide yang ada untuk bidang studi baru
  13. Mengambil teknik tertentu dan menerapkannya di daerah baru
  14. Mengembangkan alat atau teknik penelitian baru
  15. Mengambil pendekatan yang berbeda, misalnya perspektif lintas disiplin
  16. Mengembangkan portofolio kerja berdasarkan penelitian
  17. Menambah pengetahuan dengan cara yang  belum pernah dilakukan sebelumnya
  18. Melakukan studi di daerah atau topik yang belum diteliti sebelumnya
  19. Memproduksi analisis kritis dari sesuatu yang sebelumnya tidak diperiksa

Diadaptasi dari Phillips dan Pugh (1994:61-62).

Jika kita memeriksa keberadaan kriteria ini, kita harus menunjukkan bahwa riset kita adalah asli dalam beberapa cara. Jika kita masih tidak dapat menemukan “orisinalitas” dalam penelitian kita, kemudian perlu mendiskusikannya dengan pembimbing kita dan juga kolega, rekan kerja yang bias membantu.

Bukalah Pikiran dan Tingkatkan Kreativitas

Kadang-kadang persepsi kita berhenti pada “orisinal” atau “kreatif” dengan tidak melihat pilihan alternatif dan konstruktif. Namun, kreativitas kita sendiri adalah kunci untuk mengakses orisinalitas. Jika kita mengalami kesulitan memahami atau mengembangkan originalitas dalam penelitian kita, maka mungkin sekarang saatnya untuk aktif melatih kreativitas kita.

Ini adalah beberapa strategi dan teknik-teknik berikut (diadaptasi dari Carter, Bishop dan Kravits, 1996:144-145) untuk mengembangkan kreativitas dan menemukan orisinalitas:

  1. Asumsikan perspektif yang luas – hal ini akan memungkinkan kita untuk berpikir secara luas tentang penelitian kita sebagai lawan berpikir tentang hal itu dari pra-posisi disusun.
  2. Luangkan waktu di sekitar orang-orang yang berpikir inovatif untuk menginspirasi kita.
  3. Baca secara luas dan berpikir tentang berbagai topik.
  4. Nikmati kegiatan seperti berjalan, musik, meditasi, dan melamun untuk merangsang ide-ide kreatif.
  5. Beri diri kita waktu – sangat penting untuk mengakui bahwa orisinalitas adalah proses berkembang. Ketika kita melanjutkan dengan penelitian, kita akan menyadari bahwa ada banyak definisi yang berbeda dan cara-cara di mana penelitian kita menunjukkan orisinalitas.
  6. Kumpulkan ide-ide kita – menggunakan refleksi, menulis setiap hari, memetakan pikiran, dan jurnal untuk mengembangkan materi yang dapat kita gunakan untuk membangun ide-ide kreatif.
  7. Jangan terlalu fokus pada hanya menemukan jawaban yang benar dan tidak mengeksplorasi.
  8. Jangan selalu bersikap logis atau praktis, berani melanggar peraturan dan tantangan sesuai – kadang-kadang terlalu banyak penekanan pada praktis dapat mempersempit ruang lingkup dari ide kita.
  9. Terbuka untuk bermain dan bercanda – orang seringkali berpikir tentang ide-ide ketika mereka mencoba untuk tidak berpikir tentang penelitian mereka. Hal ini sering ketika pikiran kita “bermain“ bahwa lebih mudah untuk menghasilkan pikiran-pikiran baru.
  10. Terlibat dalam sesi-sesi brainstorming. Biarkan diri kita berpikir bebas – apa yang kelihatannya seperti ide gila bisa berubah menjadi penemuan yang brilian.
  11. Jangan takut gagal – itu dapat membuka pikiran kita untuk kemungkinan-kemungkinan baru dan mengungkapkan kepada kita nilai berpikir kritis.
  12. Selalu memperhatikan kreatifitas diri sendiri – menggunakan percakapan diri yang positif.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.